Inovasi PAMONA merubah Pengisian Blanko OP Irigasi secara manual menjadi Digital
PPID | Diposting pada |

Cikasda News – Palu, 14 Janari 2026. Pencatatan Blangko Operasi dan Pemeliharaan atau Blangko OP Irigasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan jaringan irigasi. Melalui blangko tersebut, petugas mencatat berbagai data lapangan yang menjadi dasar dalam monitoring, evaluasi, serta penyusunan laporan kegiatan operasi dan pemeliharaan irigasi.
Namun selama ini, proses pengisian Blangko OP masih banyak dilakukan secara manual menggunakan formulir kertas. Cara tersebut sering menyulitkan petugas, terutama ketika data harus direkap kembali, dicari ulang, atau disusun menjadi laporan. Risiko dokumen tercecer, rusak, hilang, maupun kesalahan pencatatan juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan administrasi OP Irigasi di lapangan.
Menjawab permasalahan tersebut, UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah II, Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah, menghadirkan inovasi PAMONA atau Pangkalan Data Monitoring dan Administrasi Blangko Operasi dan Pemeliharaan Irigasi. Inovasi ini dikembangkan untuk mengubah pola pencatatan Blangko OP dari sistem manual menjadi sistem digital berbasis website.
Melalui PAMONA, petugas OP Irigasi dapat mengisi blangko secara langsung melalui perangkat digital. Data yang telah diinput tersimpan dalam database terpusat, sehingga lebih aman, rapi, dan mudah diakses kembali saat dibutuhkan. Sistem ini juga membantu mempercepat proses rekapitulasi, penyusunan laporan, serta distribusi informasi kepada pengelola maupun pemangku kebijakan.
Sebelum diterapkan di lapangan, petugas terlebih dahulu mendapatkan sosialisasi dan pelatihan penggunaan sistem. Dalam tahapan awal, PAMONA telah dilaksanakan pada tiga daerah irigasi, yaitu Daerah Irigasi Ungkaya, Daerah Irigasi Toili, dan Daerah Irigasi Moilong. Pelaksanaan ini menjadi langkah awal penerapan digitalisasi Blangko OP Irigasi di wilayah kerja UPT PSDA Wilayah II.
Salah satu keunggulan PAMONA adalah alur pengisiannya tetap menyesuaikan dengan format blangko manual yang sudah dikenal oleh petugas. Dengan demikian, petugas tidak harus mempelajari sistem yang sepenuhnya baru, tetapi cukup beradaptasi dari pola pencatatan lama menuju pencatatan digital yang lebih tertib dan praktis.
Selain itu, data yang telah dimasukkan ke dalam sistem dapat diolah menjadi laporan digital. Hasil pencatatan dapat diekspor ke format Excel dan dibagikan melalui WhatsApp, sehingga proses pelaporan menjadi lebih cepat dan mudah. Prinsipnya, petugas cukup menginput data satu kali, kemudian data tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan administrasi dan pelaporan.
Berdasarkan hasil monitoring awal, penggunaan PAMONA memberikan dampak positif terhadap efisiensi kerja petugas. Proses pencatatan menjadi sekitar 40 persen lebih cepat dibandingkan metode manual. Dari sisi ketertiban dokumen, data yang masuk ke dalam sistem tersimpan secara digital sehingga tidak ada dokumen yang hilang selama proses penerapan awal.
Hasil evaluasi pengguna juga menunjukkan respons yang cukup baik. Aspek kemudahan penggunaan, tampilan dan desain, fungsi sistem, serta manfaat PAMONA berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa petugas mulai menerima sistem digital ini sebagai alat bantu dalam pengisian Blangko OP Irigasi, meskipun masih terdapat beberapa masukan untuk pengembangan lebih lanjut, seperti penyempurnaan fitur, penyesuaian format antar daerah irigasi, serta penguatan pendampingan bagi petugas.
PAMONA tidak hanya menjadi aplikasi pencatatan, tetapi juga menjadi upaya membangun pangkalan data OP Irigasi yang lebih tertib dan terintegrasi. Dengan data yang tersimpan secara digital, pengelola dapat lebih mudah memantau pelaksanaan operasi dan pemeliharaan, mengevaluasi kondisi jaringan, serta mengambil keputusan berdasarkan data lapangan yang lebih rapi dan terdokumentasi.
Ke depan, PAMONA akan terus dikembangkan dan diterapkan secara bertahap pada daerah irigasi lainnya di wilayah kerja UPT PSDA Wilayah II. Inovasi ini diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkuat digitalisasi administrasi irigasi, mengurangi ketergantungan pada dokumen fisik, serta mendukung pelayanan pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan.





Tinggalkan Balasan